sponsor

Berita Terbaru

Cerpen " B I R U "

Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, tidak melakukan hal yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak mencari-cari kesalahan, tidak pemarah, dan kasih itu selalu menjaga kehormatan orang yang disayanginya.

Kebutaan itu hanya dialami oleh orang-orang yang sedang di mabuk cinta, karena cinta itu sendiri buta, ya.. seperti cinta yang kita alami, neng…

Neneng…
Kita sepertinya lupa diri, kita selalu menikmati hari-hari yang kita lewati, ya… walaupun hari-hari kita kadang tak seindah yang kita harapkan.

Neng…
Susah, senang, kecewa, sedih, ataupun bahagia, selalu kita jalani dengan tabah --- asalkan kita tetap bersama, itu sudah cukup bagi kita --- gila memang, tapi… itulah kita.

Neng…
Aku sering menggodamu hingga kamu kesal, dan kamu pun kadang membuatku marah, namun kita dengan mudahnya saling memberi maaf, walau kadang di antara kita tak ada yang mau mengalah, tapi pada akhirnya kita melupakan ego kita masing-masing, dan… kita berdua tersenyum.

Neneng … ingatkah kamu, saat-saat kebersamaan kita itu?

Neng…
Walaupun perjumpaan kita awalnya berkesan biasa-biasa saja, akan tetapi dari situlah semua cerita tentang kita dimulai, ya… saat kita saling mencuri pandang, …tertunduk malu ketika mata kita bertemu, dan kamu biasanya cemberut jika aku tersenyum padamu.

Neneng…
Aku sangat beruntung sekali memilikimu --- kamu kadang mengorbankan waktu kursusmu untuk menemaniku keliling pertokoan mencari-cari yang tak ada ditoko, di waktu senggangmu menemaniku belajar, membaca buku, dan menghayal.

Neneng…
Aku bangga sekali menjadi kekasihmu --- kamu lah kekasih yang memelukku kala aku rindu, kamu lah kekasih yang memberi aku senyum kala letih melanda, ya… kamu lah kekasih yang sakit hingga berhari-hari akibat menemani diriku berjalan kaki menyusuri kota di tengah malam. Neng… aku merasa berdosa sekali waktu itu, dan untuk menebus dosaku itu, aku tak mau beranjak dari sisimu terbaring, hingga kau dan ibumu membujukku untuk pulang karena aku sudah dua hari tidak berada dirumah.

Neneng… kuingin kamu tersenyum jika mengingat semua kenangan kita.

Neng…
Aku sampai sekarang masih belum dapat mencerna kata-katamu “ kita dapat melayani tanpa mencintai, tapi kita tak dapat mencintai tanpa melayani “. Itulah jawabmu jika aku menanyakan kesibukanmu di PMR.

Neneng…
Itulah kamu, gadis yang mempunyai hati yang terpuji, gadis yang teramat baik, yang perduli dengan keadaan sekitarnya, yang selalu berusaha berbuat baik pada setiap orang, dan gadis yang mempunyai senyum yang teramat manis dengan kesan yang bersahaja.

Neneng…
Aku sering bertanya-tanya pada diri ini, apakah yang membuatmu begitu mencintaiku? Menurutku banyak lelaki yang bisa memberikan lebih, jika saja kamu mau menerima cinta mereka --- tetapi… mengapa kamu lebih memilih cintaku, yang tak lebih hanya bisa memberikan ketulusan dan kejujuran cinta, yang hanya bisa mengajakmu makan di warung bukan di lestoran, dan itu pun kadang kamu yang bayar, mengajakmu pergi jalan-jalan dengan berdesak-desakan di bus kota, tak bisa memberikan hadiah termahal jika kamu berulang tahun, mengapa ya… kamu mau menerima cintaku ini?

Neng…
Tiap kali kutanyakan itu padamu, kamu tersenyum dan selalu kamu jawab sama --- bahwa cinta itu datangnya dari hati, senantiasa menerima dengan apa adanya, entah itu baik atau buruk, cinta itu tidak memandang apa-apa, cinta itu tulus suci, dan dengan cinta segala perbedaan dapat disatukan.

Neneng…
Setiap kali kamu jawab begitu, aku merasa… akulah lelaki yang paling beruntung dimuka bumi ini.

Neng…
Banyak waktu dalam hidup kita yang kita habiskan bersama dan di saat-saat kebersamaan kita itulah aku merasakan arti cinta yang sesungguhnya, arti kebersamaan yang sebenarnya.

Neng…
Walau cinta kita hanya berlandaskan kesetiaan, kejujuran, dan rasa saling percaya… namun kita mampu menghadapi semua cobaan yang silih berganti datang menguji cinta kita, dan hingga pada akhirnya kita tak dapat melawan keinginan ayahmu yang menjodohkanmu dengan anak sahabatnya dan segera menikahkan dirimu.

Ya… waktu itu telah tiga setengah tahun kita lepas dari sekolah, dan aku masih belum bekerja.

Neneng…
Aku ingat tatap matamu ketika itu…
Tatap mata yang membuatku merasa bersalah…

Neneng…
Maafkanlah diriku, jika saat itu aku tak dapat berbuat apa-apa, bukan… bukan aku tak mencintaimu, tapi keadaanlah yang membuat diri ini tak berdaya, sungguh !...

Neneng…
Akupun ingin hidup denganmu, tetapi…

Neng…
Setelah pernikahanmu, waktu kulalui tanpa ada dirimu lagi, aku tak sanggup lagi hidup dengan tiada kamu disisiku, hari-hariku terasa sepi, sunyi dan hampa…

Aku tak tau lagi apa yang harus aku lakukan dalam hidup… tanpa adanya dirimu --- aku tak tau lagi…

Oh… Neneng, betapa aku teramat mencintaimu.

Diriku bagai berjalan diatas awan… tertiup angin, melayang bagai kapas… terhempas.

Neneng…
Kini aku telah jauh darimu, jauh dari kota kita, jauh dari tempat-tempat dimana kita pernah bersama, memadu kasih, mengikat janji, dan melepas rindu.

Neneng…
Enam belas tahun sudah aku pergi meninggalkan kota kita, menjalani hidup, memulai cerita-cerita baru, menyusun kembali harapan dan impian yang pernah hancur, namun… jika malam menjelang, rindu akan dirimu membayangi dan menggoda sendiriku.

Neneng… sepikah kamu malam ini ?... aku kesepian...


Untuk wanita tercantik dibawah sinar mentari…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar